Selalu ada “kambing hitam” dalam sepakbola

Kambing hitam /kam·bing hi·tam/ — ‘orang yang dalam suatu peristiwa sebenarnya tidak bersalah, tetapi dipersalahkan atau dijadikan tumpuan kesalahan’.
— Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

KEKALAHAN di atas lapangan hijau terkadang menjadi memori suram yang mengendap di pikiran dan luka yang memerihkan dada, dan bakal bertahan di sana dalam kurun waktu yang cukup lama. Perlu ramuan mujarab atau mantra sakti untuk menyembuhkan luka kekalahan, setidaknya meredakan rasa sakitnya meski cuma sebentar. Dan “kambing hitam” boleh dikatakan bisa menjadi racun manjur yang bisa memberikan kebutuhan itu, untuk setidaknya menenangkan perihnya luka akibat kekalahan, jika tidak bisa menyembuhkannya.

Di tempat yang menjunjung tinggi, mengagung-agungkan, kemenangan dan kejayaan di atas lapangan hijau, kekalahan bakal sulit ditoleransi dan diterima dengan ikhlas begitu saja. Inggris, misalnya, yang terkenal sangat kejam ketika merespons kesalahan-kesalahan sepele (apalagi ketololan menggelikan) yang dilakukan oleh pesepakbola di (dalam maupun luar) lapangan. Tengok saja apa yang didapat David Beckham pada tahun 1998. Dalam pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 1998 melawan Argentina, Beckham diusir oleh wasit di menit ke-47 setelah melanggar Diego Simeone dan Inggris akhirnya kalah melalui drama adu penalti. Keesokan harinya, dengan menjadikan Beckham sebagai kambing hitam, koran The Mirror memublikasikan berita dengan headline: “BECKHAM WRECKED IT FOR US; World Cup dream ends as he is sent off 10 HEROIC LIONS ONE STUPID BOY.

Selain menyalahkan pesepakbolanya sendiri atas kekalahan timnasnya, orang-orang Inggris juga kerap mengambing-hitamkan pemain dari tim lawan. Diego Armando Maradona pernah mengalaminya setelah dikambing-hitamkan oleh publik Inggris karena mencetak “gol tangan tuhan” saat Argentina mengalahkan Inggris di babak perempat-final Piala Dunia 1986. Alih-alih menyalahkan Terry Fenwick atau Terry Butcher yang tampil buruk, publik Inggris lebih suka mengambing-hitamkan Maradona karena mencetak gol dengan tangannya. Bagi publik Inggris, Maradona adalah orang paling laknat yang mencuri harga diri dan kejayaan mereka pada tengah hari yang terik dengan cara yang paling jahanam. Dua puluh tahun kemudian giliran Cristiano Ronaldo yang dikambing-hitamkan atas kegagalan timnas Inggris di Piala Dunia 2006. Dalam pertandingan perempat-final melawan Portugal, Wayne Rooney dikartu-merah setelah menginjak Ricardo Carvalho, namun Ronaldo-lah yang disalahkan oleh publik Inggris karena dianggap telah memprovokasi wasit.

Roberto Baggio juga pernah dikambing-hitamkan oleh publik Italia setelah gagal mengeksekusi penalti terakhir di pertandingan final Piala Dunia 1994 melawan Brasil. Pada tahun 2002 giliran Ahn Jung-hwan yang dikambing-hitamkan dan dimusuhi oleh publik Italia — khususnya Luciano Gaucci — karena timnas Korea Selatan berhasil menyingkirkan Italia di babak 16 besar Piala Dunia 2002 lewat gol emasnya. Gaucci yang pada saat itu menjabat Presiden AC Perugia Calcio, klub yang diperkuat oleh Jung-hwan, mengatakan: “Saya tidak bakal menggaji seseorang yang telah merusak (impian) sepakbola Italia.” Lionel Messi juga bisa dibilang sebagai sosok yang selalu dijadikan kambing hitam, sebagai tumpuan kesalahan, oleh publik Argentina setiap kali timnas kebanggaan mereka gagal meraih kejayaan, meski masih ada setumpuk harapan yang dititipkan kepadanya bersamaan dengan tuduhan dan cibiran keji terhadapnya.

Tidak hanya pesepakbola saja yang pernah dijadikan kambing hitam. Howard Webb, wasit asal Inggris, pernah dijadikan penyebab utama yang harus disalahkan oleh publik Polandia atas ketidak-mampuan timnas Polandia memenangkan pertandingan melawan Austria di Piala Eropa 2008. Bahkan Donald Tusk yang pada saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri Polandia juga mengaku ingin membunuh Webb yang dituduh telah membikin keputusan kontroversial: memberikan hadiah sepakan penalti untuk timnas Austria pada menit 90+3 karena menganggap Robert Lewandowski melakukan pelanggaran dengan menarik kaus Sebastian Prödl di kotak penalti.

Dalam kepercayaan Yahudi, ada perayaan Yom Kippur atau Hari Pendamaian yang membutuhkan dua ekor lembu atau kambing saat prosesi ritualnya. Lembu atau kambing pertama disembelih oleh Imam Besar Yahudi sebagai bentuk kurban penghapusan dosa umat Yahudi, sementara lembu atau kambing kedua dibiarkan hidup untuk dikutuki, dihina, dan dicerca oleh seluruh umat Yahudi sebagai simbol peletakan dosa-dosa umat sebelum akhirnya dilepaskan ke gurun pasir oleh seseorang yang sudah dipilih. Dengan pengusiran itulah dosa-dosa umat Yahudi ikut dibawa menjauh dan kesucian umat dipulihkan kembali. Setelahnya, rutinitas harian pun berjalan seperti biasanya karena krisis sudah sepenuhnya (dianggap) berakhir.

Agama-agama kuno mengatasi musibah dan penderitaan yang melanda masyarakat dengan ritual pengorbanan, dengan memindahkan atau melemparkan penyebab penderitaan kepada suatu sosok yang telah dipilih sebelumnya. Sosok yang disalahkan (atau dikambing-hitamkan) itu diperlakukan sebagai prima causa atau asal-muasal penyebab segala macam tulah, kesusahan, kesengsaraan, musibah, malapetaka, kekacauan, penderitaan, cobaan, dan bencana. Semua itu bakal terasa lebih ringan dan lebih bisa diterima jika ada sosok kambing hitam yang bisa disalahkan dan diserang dengan anak panah kemarahan dan kebencian. Bisa dibilang bahwa praktik mengambing-hitamkan seseorang atau sesuatu adalah salah satu bentuk dari kekerasan, namun karena kekerasan ini biasanya dilakukan secara kolektif maka hal itu menjadi sesuatu yang wajar atau malah dibutuhkan untuk menyembuhkan kesedihan yang menyesakkan dan luka perih akibat kekalahan. Lagipula, suatu kekerasan yang telah disepakati dan dilakukan oleh banyak orang nantinya bakal tampak dan dianggap sebagai hal yang suci, bukan?

Persetan jika sosok kambing hitam harus menanggung sakit dan penghinaan dalam kurun waktu yang sangat lama. Kisah Moacir Barbosa Nascimento, misalnya, bisa dibilang sebagai riwayat kelam dari sosok kambing hitam yang paling menyedihkan sepanjang sejarah sepakbola. Barbosa merupakan kiper utama timnas Brasil di Piala Dunia 1950 dan pada saat itu Brasil bukan cuma bertindak sebagai tuan rumah, melainkan juga kandidat kuat untuk meraih trofi juara. Brasil meluluh-lantakkan Swedia dengan skor 7-1 dan mempecundangi Spanyol dengan skor 6-1. Pesta yang paling meriah pun sudah disiapkan oleh publik Brasil yang menganggap pertandingan final melawan timnas Uruguay hanya sekadar “peragaan” atau formalitas belaka sebelum acara resmi penyerahan Trofi Jules Rimet kepada Augusto da Costa selaku kapten timnas Brasil saat itu. Maracanã Stadium dipenuhi oleh ratusan ribu orang yang tidak cemas sedikit pun dengan ancaman yang bisa dihadirkan Uruguay. Memasuki menit 66, ketika Juan Alberto Schiaffino mampu menyamakan angka untuk Uruguay, keyakinan publik Brasil tidak goyah sedikit pun — bahwa kemenangan Brasil adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa diubah. Tiga belas menit kemudian, Alcides Ghiggia mencetak gol kedua untuk Uruguay dan membikin Maracanã Stadium sunyi-senyap sampai wasit meniupkan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Publik Brasil dipeluk oleh, mencomot kata-kata Jules Rimet, “kesunyian yang begitu mengerikan”.

Syahdan momen tragis yang akhirnya dikenal dengan sebutan Maracanazo itu, entah bagaimana awal-mulanya, membikin publik Brasil mengambing-hitamkan Barbosa. Publik Brasil hanya menuduh Barbosa sebagai penyebab kekalahan meski timnas Brasil pada saat itu bermain dengan sebelas orang. Dan hal itu menuntun pada hinaan, cercaan, dan kebencian yang bertahan sampai akhirnya kesunyian abadi menerkam hidup Barbosa selamanya pada tahun 2000. Seumur hidupnya, Barbosa dianggap sebagai pembawa sial terkutuk yang sebisa mungkin harus dijauhi. Pada tahun 1994 ketika ingin mengunjungi timnas Brasil yang sedang berlaga di Piala Dunia di Amerika Serikat, Barbosa ditolak mentah-mentah oleh Mário Zagallo yang menjadi asisten pelatih timnas Brasil saat itu. Hingga embusan nafas terakhirnya, Barbosa masih penasaran dengan alasan kenapa publik Brasil masih terus-menerus menyalahkan dan membencinya atas kekalahan timnas Brasil pada final Piala Dunia 1950.

Pada akhirnya, sepakbola memang membutuhkan kambing hitam — entah itu wasit, suporter, pemain, pelatih, kondisi lapangan, cuaca, bola, atau apa pun — untuk segala kesalahan dan dosa yang berujung pada kekalahan dan kegagalan yang menyakitkan. Apa lacur? Ketika sepakbola hanya dipandang sebagai persaingan untuk menentukan pemenang dan pecundang, bukan lagi dianggap sebagai permainan indah yang menggembirakan, maka bakal selalu ada “Barbosa lainnya” sebagai kambing hitam untuk menoleransi tragedi yang terjadi di atas lapangan hijau. Semacam candu kolektif untuk menenangkan rasa perih, serupa mantra sakti untuk mengusir hantu kesialan masa lalu.

Kita memang semenyebalkan dan secongkak itu. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s