Libur telah tiba

KOMPETISI sepakbola Eropa telah mencapai konklusinya untuk musim ini. Liga-liga sepakbola Eropa seperti La Liga Spanyol, Ligue 1 Prancis, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Premier League Inggris, dan Eredivisie Belanda telah mencapai klimaksnya. Setelah melewati semusim yang penuh ketegangan, akhirnya para pesepakbola (dan fans) mendapatkan masa liburan mereka sebelum kembali beraksi di musim depan. Paulo Dybala kemungkinan besar bakal mengistirahatkan tenaga dan pikirannya di salah satu kota tenang yang ada di Bumi (atau mungkin dia malah berlibur ke Planet Mars, entahlah), sementara Gianluigi Buffon mungkin akan melewati masa liburan dengan bermesraan bersama sang kekasih di puncak gunung tertinggi. Cristiano Ronaldo saat ini mungkin sedang menikmati keindahan salah satu pantai di dunia bersama anaknya, atau Claudio Marchisio mungkin bakal menghibur diri dengan menikmati anggur terbaik dan merayakan kebersantaian di kebun belakang rumahnya.

Masa liburan adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh siapa pun di dunia ini, melepaskan penat dari rutinitas harian yang hanya berisikan keruwetan kerja demi bertahan hidup. “Libur telah tiba, libur telah tiba. Hore, hore, horeeee!” ujar penyanyi (yang tidak lagi) cilik, Tasya Kamila, dalam salah satu lagunya.

Hore? Mungkin tidak bagi beberapa dari kita sebagai fans sepakbola. Tidak ada lagi kafe-kafe yang ramai sebagai venue nonton bareng pertandingan liga-liga sepakbola Eropa, tidak ada lagi adrenalin yang terpompa ketika menonton tim kesayangan berlaga di atas lapangan hijau melalui tayangan televisi, tidak ada lagi aksi dari pemain sepakbola favorit yang bisa dijadikan bahan obrolan sewaktu jam istirahat kantor. Para jomblo pun bisa meneruskan usaha kerasnya mencari pasangan yang hilang entah ke mana. Serta, pacar-pacar yang merasa disia-siakan bakal kembali mendapatkan malam minggu mereka. Itu merupakan beberapa contoh efek akibat dari berakhirnya liga-liga di Eropa bagi kita: “fans sepakbola dunia ketiga”.

Begitu hampa dan kosong hidup ini tanpa adanya tontonan sepakbola Eropa di layar kaca pada akhir (dan tengah) pekan — hal itulah yang bakal kita rasakan saat tiba masa jeda akhir musim sepakbola Eropa. Lantas apa saja yang bisa dilakukan untuk mengisi kekosongan dan kehampaan tersebut? Berikut ini saya mencoba memberikan beberapa alternatifnya:

1) Menonton langsung pertandingan sepakbola di stadion terdekat
Bisa dikatakan bahwa beberapa di antara penikmat sepakbola Eropa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia adalah “fans kelas tiga” yang artinya hanya mampu menyaksikan tim-tim Eropa kesayangannya berlaga melalui layar televisi. Dengan berakhirnya kompetisi-kompetisi sepakbola Eropa musim ini, kamu mungkin bisa mencoba untuk mendatangi stadion terdekat dari rumah atau tempat kosmu untuk menyaksikan salah satu tim lokal yang sedang bertanding meski hanya sebatas liga antarkampung di daerahmu, karena sepakbola tidak bakal pernah mengecewakanmu. Percayalah.

2) Bermain sepakbola
Cobalah mencari kesenangan dengan bermain sepakbola sendiri — jangan terbiasa hanya menjadi spektator. Kamu bisa mendatangi lapangan-lapangan futsal yang begitu menjamur di hampir setiap kota bersama kawan-kawanmu. Bermainlah layaknya pesepakbola idola dan kesayanganmu. Jika memang skill olah bola yang kamu miliki tidak bisa menyamai sang idola, maka paling tidak bergayalah seperti mereka ketika bermain di lapangan, seperti: menggigit pemain lawan atau pura-pura terjatuh di depan gawang.

3) Memainkan game sepakbola
Alternatif yang paling rasional adalah memainkan game sepakbola: FIFA, Football Manager, Pro Evolution Soccer, Winning Eleven, atau game sepakbola lainnya. Ajaklah kawan-kawanmu untuk bermain bersama di rumah atau kamar kos. Sediakan camilan, kopi, bir, arak lokal, atau rokok sebagai pelengkap momen bermain game bersama kawan-kawanmu. Dengan begitu, selain menghilangkan kebosanan karena tidak adanya siaran pertandingan sepakbola Eropa, kamu juga telah terhitung melakukan tiga kebaikan: memberi kesenangan, makanan/minuman, dan tempat berlindung yang layak bagi para fakir asmara. Oh iya, dan juga karena berbagi itu menyenangkan.

4) Mencari kekasih
Bagi kamu yang masih jomblo (kasihan :p), masa-masa tidak adanya tontotan pertandingan sepakbola Eropa bisa dimanfaatkan dengan mencari kekasih. Apa keuntungannya? Hidupmu bakal lebih berwarna dengan adanya pacar yang, paling tidak, akan dengan senang hati mengurus dan menemanimu. Ada notifikasi atau mention bernada sayang di akun media-sosial jika kamu punya kekasih. Pesan cinta akan mulai menghiasi inbox ponsel-cerdasmu, selain pesan dari orangtua yang selalu ingin tahu kapan kamu wisuda dan melanjutkan hidup ke jenjang perkawinan. Dan kamu juga bisa dipastikan tidak bakal melewatkan malam minggu sendirian di area hotspot dengan laptop dan secangkir kopi sembari memandang dengan tatapan iri kepada sepasang kekasih yang sedang memadu romansa.

Apa yang selalu didambakan dalam upaya melewati ruang-ruang ketidak-mungkinan hidup selain kekasih yang sangat menyayangi kita?

5) Et cetera
Kamu bisa ngobrol dengan operator dari provider telepon seluler sebelum tidur malam. Atau, membayangkan liburan bersama Mélanie Laurent, Elena Tonra, Chelsea Islan, atau Alex Morgan di salah satu tempat yang paling indah di planet ini. Atau, hujan-hujanan sambil membantu abang tukang bakso berjualan. Atau, terlibat debat receh di media-sosial. Atau, pergi ke bioskop untuk menonton film. Atau, pergi ke acara gigs musik lokal yang ada di kotamu. Atau pergi ke perpustakaan kota untuk membaca buku. Atau, carilah seekor Pokemon untuk dipelihara!

Selamat liburan. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s