Gelandang-bertahan

KEBIASAAN yang berulang bakal menghasilkan karakter, dan karakter adalah tipikal yang gampang terbaca. Di panggung sepakbola, hal semacam itu bisa dengan mudah terbaca dalam konteks pesepakbola yang beralih-profesi menjadi pelatih setelah menggantungkan sepatu. Seorang pelatih yang dulunya berposisi sebagai pemain sayap (winger) ketika masih menjadi pesepakbola aktif bakal memusatkan perhatiannya pada serangan dari sektor sayap dengan memanfaatkan lebar lapangan. Sementara mantan penyerang (striker) bakal lebih memerhatikan taktik dalam konteks penyerangan. Begitu juga dengan bek (defender) yang akan memberikan perhatian lebih pada sektor pertahanan ketika melatih sebuah tim. Penjaga gawang? Nyaris mirip dengan bek: lebih suka menguatkan lini belakang timnya.

Dalam artikel yang ditayangkan oleh Daily Mail, Jordi Cruyff memaparkan sebuah teori yang cukup menarik: sepanjang sejarah sepakbola, pelatih-pelatih terbaik biasanya adalah mereka yang sewaktu menjadi pesepakbola berperan sebagai gelandang-bertahan (defensive midfielder). Kamu boleh dan sah-sah saja meragukan kapasitas Jordi — seorang pesepakbola semenjana yang gagal memenuhi ekspektasi untuk mereplika kesuksesan sang ayah: mendiang Johan Cruyff — ketika menyoal taktik dan strategi dalam sepakbola. Namun pada kenyataannya, apa yang dipaparkan oleh Jordi itu adalah sebuah kebenaran jika menilik nama-nama pelatih sepakbola yang berhasil meraih berbagai macam trofi yang ada untuk dimenangkan dalam satu atau dua dekade terakhir.

Liga Champions Eropa merupakan kompetisi antarklub Eropa yang memilik prestisius dan gengsi paling tinggi, dan tengok nama-nama pelatih yang pernah membawa timnya memenangkan trofi Si Kuping Besar dalam 20 tahun terakhir: Frank Rijkaard, Pep Guardiola, Roberto Di Matteo, Vicente del Bosque, Rafael Benítez, dan Carlo Ancelotti. Enam nama itu bermain sebagai gelandang-bertahan ketika masih aktif sebagai pesepakbola.

Final Liga Champions Eropa 2013/14 mengadu dua klub yang dinakhodai oleh dua pelatih yang dulunya bermain sebagai gelandang-bertahan: Diego Simeone (Atlético Madrid) dan Ancelotti (Real Madrid). Ketika masih aktif sebagai pesepakbola, Simeone merupakan seorang gelandang-bertahan klasik bertipikal perusak sistem permainan lawannya. Simeone tidak segan untuk beradu kaki dan badan, bahkan memainkan trik licik yang bisa merugikan lawan-lawannya. Tanyakan kepada David Beckham yang pernah menjadi korban paling terkenal dari kelicikan Simeone saat Piala Dunia 1998. Sementara Ancelotti, semasa masih bermain sepakbola, adalah tipe gelandang-bertahan dengan pembawaan yang tenang di lini tengah. Baru pada era kejayaan AC Milan di bawah kendali Arrigo Sacchi (1987-1991), Ancelotti diposisikan sedikit ke depan untuk memainkan peran sebagai gelandang-serang (attacking midfielder) menemani Ruud Gullit.

Pertemuan Simeone dan Ancelotti di pertandingan pamungkas Liga Champions Eropa bukanlah satu-satunya duel antara pelatih berlatar-belakang sebagai gelandang-bertahan. Pada musim 2004/05 dan 2006/07, final Liga Champions Eropa menyajikan pertarungan dua gelandang-bertahan antara Benítez (saat masih menjadi pelatih Liverpool) dan Ancelotti (ketika masih melatih AC Milan). Sebelumnya, pada final Liga Champions Eropa tahun 2003, mengadu AC Milan-nya Ancelotti melawan Juventus-nya Marcello Lippi. Lippi, ketika masih menjalani karier sebagai pesepakbola profesional, memainkan peran libero yang memiliki tugas agak mirip dengan gelandang-bertahan di era sepakbola modern dalam konteks menjadi perancang awal serangan.

Salah satu catatan menarik dari para pelatih yang dulunya gelandang-bertahan adalah mereka kerap menciptakan evolusi dan inovasi taktik permainan di atas lapangan hijau, dimulai dengan sistem Catenaccio yang dipopulerkan dan disempurnakan oleh Nereo Rocco dan Helenio Herrera dari cetak-biru milik Karl Rappan. Sewaktu masih menjadi pesepakbola, Rocco dan Herrera adalah seorang gelandang-bertahan dalam formasi 2-3-5 atau WM, dan saat menjadi pelatih, keduanya dengan jeli mampu melihat adanya titik lemah di garis pertahanan dalam taktik populer pada masa itu.

Melalui sistem Catenaccio, Rocco dan Herrera memaksimalkan peran libero untuk bebas melakukan zonal marking. Selain itu, libero juga difungsikan sebagai dinamo penggerak serangan pertama yang dibangun dari lini belakang. Sistem Catenaccio memanifestasikan bahwa tidak selamanya kemenangan bisa diraih menggunakan taktik ofensif, sebab tim yang menerapkan strategi bertahan juga mampu memenangkan pertandingan. Namun kecermatan sistem Catenaccio sebenarnya terletak pada bagaimana taktik ini mampu memanfaatkan ruang sempit untuk menyerang lawan di bagian yang paling mematikan. Grande Inter ciptaan Herrera yang menguasai Eropa pada dekade ‘60an mengeksploitasi lawan-lawannya melalui koordinasi Armando Picchi (libero) dan Giacinto Facchetti (bek-sayap kiri [left fullback]) dalam skema Catenaccio.

Dalam perkembangan taktik sepakbola selalu ada yang mati agar yang lainnya bisa hidup, dan Grande Inter beserta Catenaccio-nya mulai memudar setelah dikalahkan Celtic FC di final Liga Champions Eropa tahun 1967. Catenaccio benar-benar pudar setelah Inter Milan kalah melawan AFC Ajax di final Liga Champions Eropa tahun 1972. Evolusi taktik permainan sepakbola pun memasuki lembaran baru. Pada dekade ‘70an, taktik yang mendominasi sepakbola Eropa dikenalkan oleh AFC Ajax dan timnas Belanda dengan nama Total Football.

Pada awalnya, Total Football digagas dan dipopulerkan oleh Rinus Michels, seorang pelatih yang ketika masih menjalani karier sebagai pesepakbola berposisi sebagai penyerang. Namun para pemain AFC Ajax dan timnas Belanda pada saat itu mengaku bahwa Michels tidak terlalu berpengaruh dalam penggunaan dan pengolahan Total Football, melainkan mendiang Johan Cruyff-lah yang mengatur taktik dan skema itu sehingga bisa berjalan sempurna dan terlihat indah di atas lapangan hijau. Iya, Cruyff yang superjenius itu.

Dari segi penempatan posisi, Cruyff memang bukan seorang gelandang-bertahan. Namun dalam skema Total Football yang menerapkan rotasi dan permutasi posisi pemain di atas lapangan hijau, Cruyff seringkali diplot sebagai gelandang-bertahan ketika timnya berada dalam posisi diserang oleh lawan. Hal ini terjadi bukan tanpa pertimbangan yang serius sebab Cruyff bermain dalam posisi dan peran yang mirip dengan libero di awal kariernya. Cruyff merupakan dinamo penggerak saat bertahan dan menyerang dalam skema Total Football.

We discussed space all the time,” ujar Barry Hulshoff, rekan satu tim Cruyff di AFC Ajax dan timnas Belanda, yang saya kutip dari Sky Sports, menegaskan pengaruh dan kejeniusan Cruyff dalam menjalankan Total Football di atas lapangan hijau. “Cruyff always talked about where people should run, where they should stand, where they should not be moving. It was all about making space and coming into space. It is a kind of architecture on the field. We always talked about speed of ball, space and time. Where is the most space? Where is the player who has the most time? That is where we have to play the ball. Every player had to understand the whole geometry of the whole pitch and the system as a whole.

Dalam buku Brilliant Orange: The Neurotic Genius of Dutch Football, David Winner menjelaskan bahwa Total Football merupakan taktik sepakbola yang mengaitkan antara ruang dan bagaimana cara mengeksploitasinya. Untuk melakukannya dibutuhkan pergerakan tanpa henti dan fleksibilitas tidak kenal lelah dari pemain-pemainnya. Permainan dengan mempelajari dan memanfaatkan ruang merupakan tipikal dari Total Football. Ketika dalam kondisi bertahan, para pemain wajib menutup segala ruang, menjadikan lapangan terasa begitu sempit bagi tim lawan, sehingga tidak ada celah yang bisa dieksploitasi oleh tim lawan untuk mencetak gol. (Karena hal inilah skema Total Football kerap disebut sebagai pelopor sistem pertahanan pressing football yang sangat ketat.) Sementara itu hal yang berkebalikan terjadi saat tim berada dalam posisi menyerang: ukuran lapangan mesti dibikin seluas-luasnya melalui rotasi dan permutasi para pemainnya. Winner menyebut bahwa penyempurnaan skema Total Football terjadi saat Cruyff menakhodai Barcelona dalam rentang waktu 1988-1996.

Catenaccio dan Total Football merupakan sistem permainan jenius yang menjadi dikotomi dalam sepakbola: zonal marking dan man-to-man marking, bertahan dan menyerang. Dua sistem permainan tersebut disempurnakan oleh para pelatih yang pernah memerankan gelandang-bertahan ketika masih aktif bermain sepakbola. Lebih lanjut, ada kesamaan yang bisa dilihat dari Catenaccio dan Total Football: pemanfaatan ruang, entah itu dilakukan untuk bertahan atau digunakan untuk menyerang.

* * * * *

Dalam buku autobiografinya yang berjudul I Think, Therefore I Play, Andrea Pirlo menuliskan sesuatu yang menarik: “Defensive midfielder looks downfield and sees the forwards. I’ll focus instead on the space between me and them where I can work the ball through. It’s more a question of geometry than tactics. The space seems bigger to me. It looks easier to get in behind — a wall that can easily be knocked down.

Setelah membaca definisi yang ditulis Pirlo tersebut, bisa diartikan bahwa gelandang-bertahan merupakan posisi dan peran yang memiliki pandangan luas terhadap keadaan di sekelilingnya: dia harus memusatkan perhatian ke segala arah — kiri, kanan, depan, dan belakang. Hal ini membikin gelandang-bertahan harus memiliki kesadaran dan pemahaman ruang yang sangat baik, serta pada akhirnya berhasil menumbuhkan kemampuan untuk membikin keputusan dengan cepat. Kesadaran dan pemahaman ruang merupakan kecakapan mutlak yang harus dimiliki oleh seorang gelandang-bertahan, dan dengan kejelian dalam mengamati area yang begitu luas menjadikan gelandang-bertahan sebagai bagian integral bagi sebuah tim sepakbola.

As a defensive midfielder you must be tactically aware,” ujar Patrick Vieira kepada FourFourTwo tentang bagaimana seorang gelandang-bertahan harus selalu memiliki kesadaran taktik dan kejelian menguasai ruang-ruang yang ada di atas lapangan hijau. “You’re at the heart of the team so you have to hold everything together and allow other players to express themselves. To do this you need to talk a lot and use your brain, because quite often you have to be in the right place at the right time. You have to cover the gap between the midfield and the back four, cover the left and right full-backs when they go forward and the central defenders when they push further up the pitch.

Stereotip yang ada selama ini menganggap bahwa gelandang-bertahan selalu dimainkan oleh pesepakbola-pesepakbola bertipe perusak atau penghancur: pemain dengan teknik olah bola buruk, namun mesti memiliki keterampilan melakukan tackle dan intersep yang bagus, serta lari yang cukup cepat dan daya tahan fisik yang kuat. Lalu muncul istilah-istilah arketipe untuk peran gelandang-bertahan seperti regista, holding midfielder, deep-lying playmaker, box-to-box midfielder, anchorman, advanced playmaker, dan sebutan njelimet lainnya. Meski beberapa pandit sepakbola berargumen bahwa istilah-istilah itu bukanlah padanan yang cocok bagi peran gelandang-bertahan. Namun jika menengok kembali evolusi taktik sepakbola, peran gelandang-bertahan yang membantu serangan dengan berbagai macam teknik dan pengembangan sebenarnya sudah jamak terjadi di masa lalu. Apa-apa yang terjadi hari ini adalah pengulangan dengan berbagai macam modifikasi yang tidak terlalu signifikan.

Saya kira, dengan segala kerumitan tugas dan peran yang dilakoni gelandang-bertahan di atas lapangan hijau, adalah sebuah kelaziman jika para pelatih yang dulunya gelandang-bertahan biasanya memiliki kejeliaan dan kecerdasan taktikal yang lebih bagus. Pengalaman para pelatih ketika masih bermain sebagai gelandang-bertahan membikin mereka lebih peka dan lebih tahu bagaimana caranya memanfaatkan ruang untuk bertahan dan menyerang. Seorang penyerang paham bagaimana caranya menyerang dan merusak lini pertahanan, sementara seorang bek tidak dipungkiri lagi tahu banyak bagaimana membangun dan mengatur benteng pertahanan yang solid. Namun, saya pikir, yang memiliki pemahaman nyaris sempurna dan berimbang antara bertahan dan menyerang (serta transisi yang terjadi di antara kedua kondisi tersebut) adalah seorang gelandang-bertahan. []

Advertisements

Silakan komen di sini:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s